Defenisi
Istisqa’ artinya minta diturunkan hujan
oleh Allah swt untuk sejumlah negeri atau hamba-hambaNya yang
membutuhkannya melalui shalat, berdoa dan beristighfar ketika terjadi
kemarau.
Hukumnya
Shalat Istisqa’ termasuk shalat sunnah
yang sangat dianjurkan sekali (sunnah muakkadah), di mana Rasulullah saw
pun telah melaksanakannya dan beliau juga memberitahukannya kepada
orang-orang agar ikut serta untuk pergi ke tempat pelaksanaan shalat
istisqa’.
Oleh karena itu apabila hujan sangat lama
tidak turun dan tanah menjadi gersang, maka dianjurkan bagi kaum
muslimin pergi ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat istisqa’ dua
rekaat di pimpin seorang iman, memperbanyak do’a dan istighfar dan
memutar selendangnya yang sebelah kanan diletakkan ke sebelah kiri.
Sebagaiamana sabda Nabi saw dari Abdullah bin Zaid ia berkata
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ
إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ
رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا
بِالْقِرَاءَةِ
“Saya melihat Nabi saw tatkala pergi
ke tanah lapang untuk shalat istisqa’ beliau palingkan punggungnya
menghadap para sahabat dan kiblat sambil berdo’a, lalu beliau palingkan
selendangnya, kemudian shalat dengan kami du’a rekaat dengan suara yang
keras ketika membaca ayat.
Tata cara shalat istisqa’
Pergi ke tanah lapang kemudian shalat
berjama’ah bersama orang-orang yang dipimpin seorang imam tanpa adzan
dan iqomah akan tetapi hendaknya mengucapakan الصلاة جامعة. Kemudian
shalat dua rekaat, jika imam berkenan maka ia dapat membacca takbir
sebanyak tujuh kali pda rekaat pertama dan lima kali pada rekaat
keduaseperti pada shalat hari raya. Pada rekaat perama imam membaca
surat al-‘Ala setelah ia membaca surat Al-Fatihah dengan suara yag
nyaring, sedang pada rekaat yang kedua membaca surat al-Ghasiyah.
Setelah selesai shalat hendaknya imam menghadap ke arah jama’ah kemudian
ia berkhutbah di hadapan mereka dengan menghimbau mereka supaya banyak
bersitighfar, lalu imam berdoa yang diamini oleh jama’ah, lalu imam
menghadap kiblat serta mengubah posisi selendangnya, sehingga bagian
sebelah kanan berpindah ke bagian sebelah kiri, serta bagian sebelah
kiri berpindah ke bagian sebelah kanan dan kemudian mengangkat
tangannya, lalu orang-orangpun harus mengubah posisi selendang mereka
sebagaimana yang dilakukan seorang imam. Selanjutya mereka berdoa sesaat
kemudian bubar. Dan disunnahkan ketika berdo’a istisqa’ mengangkat tangannya dengan posisi punggung tangan di atas.
Beberapa bentuk istisqa’
- Seorang imam shalat dua rekaat bersama makmum, waktunya kapan saja, kecuali waktu yang dilarang untuk shalat. Dengan mengeraskan bacaan, rekaat pertama membaca surat Al-‘Ala dan yang kedua dengan surat Al-Ghasiyah Selesai shalat Imam berkhutbah di hadapan manusia kemudian berdo’a kepda Allah agar diturunkan hujan. Dan ini adalah cara yang paling sempurna dan lengkap.
- Ketika khutbah jum’at kemudian di akhir khutbah khatib berdo’a supaya diturunkan hujan, kemudian makmum mengamini do’anya. Sebagaiamana sabda Nabi saw, Dari Anas ra bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid pada hari jum’at, sedangkan Rasulullah saw sedang berdiri berkhutbah, lalu laki-laki tadi berkata, “Wahai Rasulullah saw hartaku telah binasa, bekalku telah habis, maka berdo’alah kepada Allah agar menolong (menurunkan hujan) kepada kita, kemudian Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya dan berdo’a,
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
- Hanya dengan berdo’a saja, bukan pada hari jum’at dan tidak pula melaksanakan shalat di masjid atau di tanah lapang.
Waktu pelaksanaan istisqa’
Waktu pelaksanaan istisqa’ sama seperti shalat hari raya ini adalah pendapat Malikiyah, berdasarkan keterangan dari Aisyah, “Rasulullah saw pergi menunaikan shalat istisqa’ ketika tampak penghalang matahari.
Namun dalam hadits ini bukan membatasi bahwa waktu shalat istisqa’ itu
hanya seperti keterangan dalam hadits, akan tetapi waktu pelaksanaan
shalat istisqa’ dapat dikerjakan kapan saja, selain waktu yang dilarang
untuk shalat.
Karena shalat istisqa’ memiliki waktu yang panjang, namun yang lebih
afdhal adalah dilaksanakan pada awal hari sebagaimana disebutkan dalam
hadits di atas, karena shalat istisqa’ menyerupai (hampir sama) dengan
shalat ‘ied tata cara dan tempatnya.
Hal-hal yang disunnahkan sebelum shalat istisqa’
Disunnahkan kepada imam untuk mengumumkan
pelaksanaan shalat istisqa’ beberapa hari sebelumnya, menghimbau
orang-orang supaya bertaubat dari kemaksiatan dan menjauhkan diri dari
kedzaliman. Juga menganjurkan mereka supaya berpuasa, bersedekah,
meninggalkan permusuhan dan memperbanyak amal kebaikan, karena
kemaksiatan itu penyebab kemarau dan tidak diturunkannya hujan,
sebagaimana ketaatan menjadi penyebab kebaikan dan keberkahan sehingga
Allah swt akan menurunkan hujan dari langit.
Khutbah Istisqa’
Para ulama’ berbeda pendapat mengenai
waktu khutbah pada shalat istisqa’, Sebagian ulama’ berpendapat dan ini
adalah merupakan riwayat dari Imam Ahmad, bahwasanya Imam berkhutbah
sebelum shalat istisqa’.
Namun mayoritas ulama’ di antaranya
adalah Malik, Syafi’I dan Muhammad bin Hasan dan ini juga riwayat dari
Imam Ahmad bin Hambal dari jalur yang lain, bahwasanya khutbah istisqa’
dilaksanakan setelah shalat istisqa’ dan ini merupakan pendapat yang
benar, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalm Al-Mughni
berdasarkan perkataan dari Abu Hurairah di dalam hadits yang shahih,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ خَرَجَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي
فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ
خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا
يَدَيْهِ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ
وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah r
keluar pada waktu istisqa’ maka kemudian ia shalat bersama kami dua
raka’at tanpa adzan dan iqamah kemudian berkhutbah pada kami dan berdo’a
kepada Allah U dan menghadapkan wajahnya ke arah
kiblat dengan mengangkat tangannya kemudian membalik selendangnya dan
menjadikan selendang sebelah kanan pada pundak yang kiri dan selendang
sebelah kiri diletakkan di pundak yang kanan.” (HR. Ibnu Majah)
Do’a-do’a istisqa’
Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa do’a di dalam istisqa’ yang sesuai dengan sunnah Rasulullah saw :
- Sebagaimana hadits yang telah lalu ketika seoang laki-laki datang ke masjid dan Rasulullah saw sedang berkhutbah, kemudian ia minta supaya Rasulullah saw berdo’a, اللهم أغثنا اللهم أغثنا اللهم أغثنا sebanyak tiga kali.
- Sebagaimana sabda Nabi saw dari Ibnu Abbas
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ
“Ya Allah berilah kami hujan yang menolong, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman dan segera tanpa ditunda-tunda.”
- Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwasanya Nabi saw ketika dalam istisqa’ beliau membaca, اللهم اسقنا اللهم اسقنا اللهم اسقنا ” Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami, Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami, Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami”.
- Salah satu do’a dalam istisqa’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا
وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ
وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Allah turunkanlah hujan disekitar
kami, bukan pada kami. Ya Allah berilah hujan ke dataran tinggi,
pegunungan, anak bukit, dan lembah serta di tempat tumbuhnya pepohonan.”
- Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan di antara do’a yang dibaca Nabi saw ketika istisqa’
اللَّهُمَّ اسْقِنَا
غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا
غَيْرَ آجِلٍ قَالَ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمْ السَّمَاءُ
“Ya Allah berilah kami hujan yang
menolong. Menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat dan
tidak membahayakan dengan segera tanpa ditunda-tunda.”ARTIKEL TERKAIT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar