Cari dengan judul

Translate

Sabtu, 13 Agustus 2016

MOTIVASI : HUKUM SEBAB AKIBAT DALAM HIDUP



MOTIVASI : HUKUM SEBAB AKIBAT DALAM HIDUP

Segala Sesuatu terjadi karena alasan tertentu. Untuk setiap akibat ada sebab tertentu. (Brian Tracy)
Ketentuan Allah (sunnatullah) berupa hokum sebab akibat (the law of cause and effect) berlaku bagi siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, terlepas dari apakah kita menyadari atau tidak menyadari dan apakah kita menyukai atau tidak menyukai akibat yangt terjadi.
Menurut Brian Tracy dalam buku The 100 Absolutely Unbreakable Laws of Busniess Succes, dari hokum sebab akibat dapat diturunkan empat hokum lain yang merupakan dasar kesuksesan atau ketidaksuksesan kita.
Pertama, hokum keyakinan (the law of belief). Apapun yang kita yakini dengan sepenuh hati akan menjadi kenyataan.
Kedua, hokum harapan (the Law of expectation). Apapun yang kita harapkan dengan penuh percaya diri, menjadi harapan yang terpenuhi dengan sendirinya.
Ketiga, hukum ketertarikan (the law of attraction). Kita adalah magnet hidup. Kita menarik orang-orang, situasi, dan keadaan yang sejalan dengan pikiran dominan ke dalam hidup kita.
Keempat, hokum kesesuaian (the law of correspondence),. Dunia luar merupakan cermin dunia dalam kita. Ia sesuai dengan pola dominan pikiran kita.
Hokum sebab akibat bdan keempat hokum turunannya mengajarkan bahwa kebahagiaan, kesejahteraan, dan kesuksesan merupakan akibat langsung atau tidak langsung dari sebab-sebab atau tindakan-tindakan tertentu. Ini berarti jika kita tahu dengan jelas akibat yang kita inginkan, kita dapat mencapainya. Kita dapat mempelajari orang-orang yang sudah mendapatkan tujuan yang sama, dan dengan melakukan hal-hal yang sudah mereka lakukan, kita juga dapat memperoleh hasil serupa.
Hokum sebab akibat disebut hokum tanam tuai, “Kita menuai hasil yang kita tanam”. Dalam QS. Al-Zalzalah 99 : 7-8, Allah berfirman “ barangsiapa mmengerjakan kebaikan walaupun seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan keburukan walaupun seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula”
Bagi kita, ekspresi terpenting dari hokum sebab akibat adalah “pikiran adalah sebab, sedangkan kondisi adalah akibat.” Sebagaiman firman Allah dalam QS. Ar Ra’du 13:11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Dengan kata lain, pikiran kita adalah kekuatan kreatif primer dalam hidup kita. Kita menciptakan seluruh hidup kita dengan cara kita berpikir. Segala sesuatu dalam hidup memiliki makna sesuai dengan yang kita pikirkan mengenai hal-hal tersebut. Ketika mengubah pikiran, kita mengubah hidup kita.
Prinsip terpenting dari keberhasilan pribadi atau bisnis adalah “Kita menjadi seperti yang kita pikirkan sepanjang waktu”. Prinsip ini berlaku bagi individu, sekelompok individu, atau organisasi. Apapun yang kita lihat atau alami adalah perwujudan dari pemikiran orang-orang dibelakang fenomena tersebut.
Bukan apa yang terjadi, tetapi apa yang kita piker tentang apa yang terjadilahy yang menentukan bagaimana kita merasa dan bereaksi. Bukan dunia luar yang mendikte keadaan kita. Tetapi dunia dalam diri kitalah yanmg menciptakan kondisi kita. Kita selalu bebas memilih.
Dalam jangka panjang, tak ada seorangpun dapat memaksakan cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku. Kitalah yang memilih cara berpikir, merasa, dan berperilaku kita dengan memilih makna yang kita asosiasikan dengan dunia sekeliling kita dengan makna yang kita asosiasikan dengan apa yang terjadi pada kita.
Cara kita memaknai atau menjelaskan hal-hal kepada kita sendiri, merupakan penentu terpenting keadaan dan akan menjadi apa nantinya. Berita baiknya aadalah bahwa gaya penjelasan kita merupakan hasil belajar. Karena hasil belajar, gaya penjelasan kita yang kurang bermanfaat dapat digantikan dengan gaya penjelasan lain yang lebih bermanfaat.
Cara kita memaknai segala sesuatu sepenuhnya ada dalam kendali kita. Kita dapat memaknai pengalaman kita sedemikian rupa sehingga kita merasa lebih bahagia dan optimis dari pada marah atau frustasi. Kita dapat memutuskan untuk bereaksi sedimikian rupa sehingga respon kita lebih konstruktif dan efektif. Kita selalu bebsa memilih.
Oleh karena itu pilihlah untuk mengasihi daripada membenci; tersenyum daripada mengernyitkan dahi; membangun daripada menghancurkan; bertekun daripada menyerah; memuji daripada bergosip; menyembuhkan daripada melukai; member daripada mencengkram; berbuat daripada menunda; memaafkan dari pada mengutuk; dan berdo’a daripada putus asa.

Pilihan ada pada kita. Apakah kita menaati atau tidak menaati hokum sebab akibat dengan empat hokum turunannya, hokum-hukum tersebut tetap saja akan berlaku. Sesederhana mensyukuri setiap karunia Allah terhadap kita dan mau melakukan lebih baik dan lebih banyak daripada bayaran yang kita terima akan melejitkan kualitas hidup kita secara drastic.

Tidak ada komentar: