ILMU, guru dan murid
adalah tiga hal yang saling terkait. Ketiganya merupakan rangkaian yang
tak terpisahkan. Ada guru jika
ada murid. Begitu juga sebaliknya. Guru
dan murid ada kalau ada ilmu yang diajarkan dan dipelajari. Begitulah
siklus yang selalu berlaku dalam sepanjang sejarah manusia.
Memang ada istilah experience is the best teacher (pengalaman
adalah guru yang baik). Ada juga kadang yang mengaku belajar secara
otodidak, tanpa guru ia mempelajari ilmu. Itu memang bisa terjadi.
Namun, tidak semua ilmu bisa dipelajari hanya dari pengalaman dan
otodidak. Sebab itulah perlu sekiranya terlebih dahulu membahas apa itu
ilmu. Bisakah orang mendapatkan ilmu? Dari mana kita bisa tahu? Dengan
cara apa kita tahu? Siapa yang memberi tahu kita tentang pengetahuan?
Apa pentingnya orang yang memberi tahu?
Jawaban yang akurat dari tiga pertanyaan
pertama akan mengantarkan kepada kita untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Sebab, jika kita gagal mendapatkan
jawaban yang awal-awal itu, maka kita sia-sia saja mencari
jawaban-jawaban pertanyaan yang setelahnya.
Bisakah Kita Tahu?
Pertanyaan ini sebenarnya berimplikasi
kepada konsepsi yang agak kompleks. Sebab, di masa lalu, tepatnya di
masa Yunani Kuno, ada kelompok yang disebut kaum sophist (al-sūfasthā’iyyah) yang anti kepada ilmu. Mereka biasa dikelompokkan kepada tiga arus pemikiran besar, yaitu relativist (al-‛indiyyah), skeptik (al-‛inādiyyah) dan agnostik (al-lā adriyyah).
Kaum sofis dengan kompleksitas
angan-angannya menolak pandangan bahwa manusia bisa mencapai pengetahuan
yang benar. Mereka menolak kemampuan, kapasitas manusia lahir dan
batin, mental dan spiritual, dengan segala bentuk dan rupanya. Mereka
menganggap, karena manusia mempunyai keterbatasan maka tidak akan sampai
kepada pengetahuan yang benar.
Memang benar manusia ada keterbatasan.
Namun, walaupun ada ‘keterbatasan’ tapi tidak sampai berakibat
menggugurkan nilai kebenaran maupun keabsahan atau validitas pengetahuan
yang dicapai manusia. Memang beberapa kasus bisa saja terjadi
ketidaksempurnaan itu. Namun, dalam kondisi ‘normal’, dalam keadaan
manusia yang sempurna (tidak cacat) dan sehat (tidak sakit atau
terganggu) fisik dan mentalnya, jasad maupun ruhnya, dan terutama sekali
akal dan hati (qalb)-nya, maka pengetahuan manusia itu valid adanya.
Lalu apa yang bisa diketahui?
Memang tidak mudah mendefinisikan ilmu
yang pada hari ini. Terkadang definisinya rancu akibat banyaknya
nomenlaktur yang membawa kita kepada konsep yang berbeda-beda. Kita tahu
ada istilah science, ada juga knowledge, ada juga ‘ilm,
serta istilah-istilah lainnya. Secara jeneralnya kita sebut saja
sebagai ilmu. Abaikan saja perbedaan itu, kita satukan nomenlakturnya
kepada ilmu.
Kalau ingin tahu apa itu ilmu, kita bisa terlusuri dalam banyak kamus ensiklopedik Islam klasik, seperti Kasysyaf Istilahat al-Funun oleh At-Tahanawi, al-Ta’rifat oleh al-Jurjani atau juga Kasyf al-Zunun ‘an Asami al-Kutub wa al-Funun
oleh Katib Celebi. Beragam definisi ilmu dipaparkan disana. Itu
menunjukkan rumitnya mendefinisikan ilmu secara spesifik. Sebab, ilmu
itu bukan benda wujud seperti manusia yang dengan mudah bisa di¬-had-kan kepada al-hayawan al-natiq.
Tapi ilmu merupakan wujud yang abstrak yang hanya bisa didefinisikan
secara rasmiyan. Makanya definisi ilmu oleh para ulama kebanyakan berupa
definisi rasm dan bukan hadd.
Untuk lebih singkatnya, ada hasil sintesis
definisi ilmu dari berbagai ulama itu oleh Professor Naquib al-Attas,
filosof kontemporer asal malaysia. Beliau menyatakan,
حصول معنى أو صورة الشيء في النفس ووصول النفس إلى معنى الشيء
The arrival (حصول) in the soul of the
meaning of a thing or an object of knowledge and teh arrival (وصول) of
the soul at the meaning of a thing or an object of knowledge.
Secara deskriptif (rasm),
definisi ini menggambarkan adanya dua arah eksisnya ilmu pada manusia.
Pada bagian pertama ilmu itu adalah sampainya makna sesuatu ke dalam
jiwa. Artinya ilmu datang begitu saja kepada manusia. Ilmu ini kalau
dalam ilmu filsafat mungkin bisa dikategorikan ilmu yang necessities atau apriori (daruriyyat). Termasuk juga ilmu ladunni.
Sementara bagian kedua, ilmu itu adalah sampainya jiwa kepada makna.
Ini mendeskripsikan kepada kita bahwa ilmu itu apabila jiwa kita sudah
menangkap makna sesuatu objek. Dan ini perlu dicari dan diusahakan oleh
manusia. Jenis ini kalau dalam filsafat disebut aposteriori (nazariyyat).
Yang perlu diperhatikan dalam definisi itu
adalah ada terminologi ‘jiwa’ (nafs). Sebab kata ini sebetulnya
mengirim pesan kepada kita agar kita mengenali nafs itu. Sebab dengan
mengenali nafs kita akan mengenali Sang Pencipta nafs itu sendiri.
Begitu kata ahli Sufi, yang senada dengan ayat-ayat al-Quran, seperti
dalam Surat al-Fushshilat ayat ke 53:
“Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri
mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah
benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu?” (QS 41: 53)
Nafs atau jiwa adalah representasi dari
penyebutan manusia dalam al-Quran yang level-level jiwa manusia tersusun
epada jasad, akal dan ruh. Semua level itu mempunyai kapling-kaplingnya
dalam pemerolehan pengetahuan (‘ilm). Sementara jasad diwakili oleh indera yang mengahsilkan ilmu inderawi (sensible knowledge). Sementara akal mereperentasikan alat penyerap ilmu dalaman manusia yang bersifat teoretis (theoretical knowledge).
Dan ruh merupakan representasi dari penangkap ilmu spirtual dan yang
mempunyai potensi untuk menghubungkan manusia dengan sang Khaliqnya,
selain dari peran alat-alat lainnya. Ketiganya bahu membahu memberikan
kontribusi pencapaian ilmu dalam diri manusia, baik yang bersifat husuli
ataupun bersifat wusuli seperti dijelaskan di atas.
Menurut Imam al-Ghazali, filosof Muslim yang tenar dengan “Tahafut al-Falasifah”-nya
ini, ruh itu adalah raja dalam tubuh manusia, panglimanya adalah akal,
pembantunya adalah nafsu dan prajuritnya adalah panca indera atau jasad.
Sehingga, ilmu yang dicapai semestinya, ilmu wahyu menjadi porosnya dan
ilmu-ilmu yang lain menjadi panglima dan pembantu-pembantu kepada ilmu
wahyu.
Apa Peran Guru dalam Ilmu?
Tentu saja yang mampu mentransfer ilmu seutuhnya, baik yang level bawah (sensible knowledge), menengah (theoretical knowledge) maupun atas (spiritual knowledge),
hanyalah guru sejati. Orang boleh saja berkilah bisa mendapatkan ilmu
sendiri secara otodidak atau mengatakan mau belajar saja dari pengalaman
(experience is the best teacher), namun yakinlah tidak akan sempurna ilmunya. Bahkan, sangat besar potensinya untuk sesat bahkan menyesatkan.
Adab Muslim pada Guru
Makanya, menarik sekiranya penulis karya ulama yang kitabnya dibaca turun temurun di pesantren, yaitu Ta’lim al-Muta’allim yang ditulis oleh Burhanuddin al-Zarnuji, menyatakan dalam syair yang dikutipnya, sebagai berikut:
أَلَا لَـنْ تَنَــالُ الْــعِـلْمَ إِلَّا بِسِــتَّةٍ سِأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاصْطِبَارٌ وَبُلْغَةٌ وَإِرْشَادُ أُسْتَاذٍ وَطُـوْلُ زَمَانِ
ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاصْطِبَارٌ وَبُلْغَةٌ وَإِرْشَادُ أُسْتَاذٍ وَطُـوْلُ زَمَانِ
Kata beliau, “Engkau tidak akan
mencapai ilmu itu kecuali dengan enam hal. Aku akan jelaskan kepadamu
secara garis besarnya: cerdas, sungguh-sungguh, sabar, ada bekal, ada
guru yang membimbing dan masa yang panjang.”
Ia jelas-jelas meletakkan peranan guru
sebagai salah satu syarat mutlak mendapatkan ilmu. Jika tidak dipenuhi,
maka ilmu itu tidak akan engkau capai (lan tanal).
Ini pernyataan bukan serba-serbi atau
penghias bibir saja. Benar adanya bahwa tanpa guru kita akan kehilangan
inti ilmu, ilmu yang hakiki mustahil didapat. Bahkan akan berpotensi
besar menuju kesesatan. Makanya dalam Islam ada ilmu sanad, di mana ilmu
itu mengalir melalui periwayatan sejak Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi Wassallam, kepada para sahabat, kepada para tabiin, kepada para
tabiuttabiin, kepada para ulama dan sampailah ilmu itu kepada kita
semuanya.
Guru adalah mursyid, pembimbing. Di zaman
kini, di dunia akademik maupun di perusahaan, ada konsultan atau
supervisor. Guru adalah mirip-mirip dengan itu, yang membing,
mensupervisi, menjadi konsultan kita dalam meniti jalan mencapai ilmu
mengenali kebenaran hakiki.
Apa gunanya semua itu? Gunanya agar potensi kesalahan tidak banyak dan kesuksesan lebih mudah diukurnya.
Apa gunanya semua itu? Gunanya agar potensi kesalahan tidak banyak dan kesuksesan lebih mudah diukurnya.
Menurut al-Zarnuji dalam Ta’lim-nya, guru
ibu bapak kita dalam ilmu. Oleh karena itu guru harus kita ta’dzimi dan
hormati. Bahkan saking urgennya guru, Khalifah keempat Ali r.a
menyatakan:
“Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia mau bisa menjualku dan bisa juga memerdekakanku.”
Dengan artian, bukan berarti Sayyidina Ali
r.a. ingin menjadi budaknya guru, namun saking terhormatnya seorang
guru di mata Islam, maka seakan-akan kita menjadi budaknya. Walaupun
tentunya tidak bisa dengan ini seorang guru semena-mena memperlakukan
murid-muridnya.
Seorang guru hakiki itu sudah mempunyai
seribu pengalaman, semantara murid masih sebiji sawi pengalaman. Oleh
karena itu, jika kita mau menjadi orang yang betul-betul berilmu harus
mempersering satu forum, satu meja, bahkan talaqqi dengan guru. Ada
pepatah Arab yang senada dengan ini:
Maksudnya, seorang murid itu baru
permulaan dalam menuntut ilmu, sehingga pengetahuannya masih terbatas.
Sementara syeikh, guru, sudah nihayah, mempunyai pengetahui yang
kompleks. Jika sering-sering murid bersama guru, tanpa perlu banyak baca
buku akan mendapatkan ilmu-ilmu yang dipancarkannya, baik melalui
statemen-statemennya maupun dari uraian-uraiannya yang merupakan
saringan dari berbagai buku hasil bacaannya.
Tidak Mudah Menjadi Guru Sejati
Menjadi guru bukan sekedar mentrasfer
ilmu, lalu selesai, seperti di zaman kita hari ini. Di dunia modern,
guru tak ubahnya sebatas pembantu kita mentrasnfer ilmunya kepada kita.
Jika demikian yang terjadi, itu namanya sekedar pengilmuan, menjadikan
kita mengetahui ilmu yang diajarkan. Padahal, guru tidak semudah itu
tugasnya. Guru adalah mereka yang mempunyai beban mengantarkan muridnya
menjadi beradab.
Mendidik manusia beradab tidak semudah
mentransfer ilmu. Sebab, menjadikan orang beradab itu berarti menjadi
orang disiplin dalam dirinya, diri dengan alamnya, diri dengan
Penciptanya. Dan tugas ini tidak bisa diemban kalau hanya menjadi guru
kelas kacangan, kelas guru-guruan. Mesti guru sejati yang mengembannya.
Mengapa demikian? Hal itu karena yang mau
dididik itu manusia, bukan hewan, bukan binatang. Manusia secara
komprehensif sudah disinggung di atas, mempunyai jasad, akal dan ruh.
Pendisiplinan jasad, akal dan ruh dalam sebuah proses pendidikan itu
yang dinamakan ta’dib. Yakni menjadikan manusia beradab, dan menjauhkan
manusia dari biadab atau bidunil adab.
Manusia yang sudah beradab pasti mengenal
dan mengakui Allah Subhanahu Wata’ala. Mengenal maksudnya sudah berilmu
dengan ilmu yang komprehensif, apakah ilmu yang level rendah, menengah
dan tinggi, sebagaimana disebut di atas, sehingga tahu hakekat kebenaran
(haqiqatul asya’) dan mengakui dengan artian ia berkomitmen menjalankan
atau mengamalkan ilmunya sesuai yang diinginkan oleh Sang Pencipta
sistem kedisiplinan (adab), baik dalam mikrokosmos (manusia) ataupun
dalam makrokosmos (alam raya). Itulah yang disebut pendidikan sebenarnya
dalam Islam. Dan itulah sebenarnya tugas guru sejati. Dari sini kita
akan melihat bahwa menjadi guru sejati itu tidaklah semudah menjadi
pentransfer ilmu saja.
Seorang guru sejati adalah yang fokus kepada tugas pendisiplinan (ta’dib)
murid-muridnya. Ia tentu saja tidak disibukkan dengan urusan dunia,
seandainya itu dalam keadaan normal. Walaupun ada kondisi di saat ini
kondisi guru sangat sulit karena kurang diperhatikan oleh penguasa,
sehingga guru-guru terpaksa berbisnis sebagai aktifitas sampingan.
Padahal semestinya, sebagai pengemban tugas yang berat, kesejahteraan
guru sudah terjamin. Sebab, ilmu yang hendak disampaikan atau murid yang
hendak mencari ilmu, akan berhadapan dengan ilmu yang tak terbatas
banyaknya. Sementara usia para murid terbatas. Apalagi usia guru yang
biasanya jauh lebih senior. oleh karena itu, perjuangan guru memang luar
biasa besarnya dan berat bebannya.Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar