AGAMA Nasrani atau
Kristen adalah agama yang asalnya berpandu pada Kitab Injil yang dibawa
oleh Nabi Isa ‘alaihissalam. Agama ini pada dasarnya memiliki ajaran
inti mentauhidkan Allah
, karena dengan itulah para nabi dan rasul
diutus, mengesakan Allah dan menjauhi taguht.
Taghut adalah istilah segala bentuk sesembahan selain Allah. Kullu ma ‘ubida bighairillah’, maka, makna hakiki ‘La ilaha illallah’ adalah ‘Tidak ada sesembahan berhak disembah kecuali Allah’.
Namun, seiring berlalunya waktu, penganut
agama Nasrani yang telah bercerai menjadi dua bagian, Kristen Katolik
dan Kristen Protestan meyakini bahwa, Isa yang hanya diutus untuk
mejalankan misi kerasulan didaulat menjadi tuhan yang melebur dalam tiga
komponen utama, roh kudus, tuhan bapak, dan tuhan anak.
Keyakinan ini langsung dikoreksi dengan nada keras oleh Al-Qur’an, misalnya, “Sungguh,
Al-Masih Isa putra Maryam adalah benar-benar utusan Allah yang
diciptakan dengan kalimat-Nya dan disampaikan-Nya kepada Maryam dengan
tiupan roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan janganlah kamu mengatakan, Tuhan itu tiga.” (QS. An-Nisa: 171).
Itu hanyalah salah satu teguran keras
Al-Qur’an kepada agama Nasrani agar mereka sadar atas kesesatan dan
kekufurannya. Sayang, koreksi Al-Qur’an malah dijadikan alasan utama
untuk meletakkan Islam sebagai ‘musuh bebuyutan’.
Sebagaimana kita ketahui, kedua agama ini
terus melakukan ‘perang’ baik fisik seperti ‘Perang Salib’ maupun non
fisik seperti bertanding untuk memperluas pengaruhnya.
Kristen melancarkan ‘kristenisasi’ di
negara-negara berpenduduk muslim termasuk Jazirah Arabia dan Indonesia,
pada waktu yang sama Islam menggencarkan dakwahnya di negara-negara
berpenduduk Kristen, termasuk Eropa dan Amerika.
Kristen menganggap bahwa Islam tak ubahnya
laksana ‘domba-domba sesat’ sedang Islam melihat bahwa Kristen adalah
para ‘pelaku maksiat dan munkar’ yang harus diajak ke jalan yang benar.
Dalam prinsip dasar setiap muslim, siapa
mengajak pada kebenaran [kebaikan] maka seluruh pahala yang didapatkan
orang yang melakukan kebaikan itu, sama dengan orang yang menyuruhnya.
Sebagaimana sabda Nabi, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda : “Barangsiapa
yang mengajak orang kepada suatu petunjuk (jalan yang baik), maka dia
mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang mengikutinya, dengan
tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak
kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosanya orang
yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2060]
Sejarah perseteruan kedua agama misi ini menarik untuk terus diungkap agar menjadi pelajaran bagi generasi pelanjut.
Islam memang tidak akan lenyap di dunia,
tetapi tidak mustahil lenyap dari bumi pertiwi Indonesia, begitu kata,
M. Nasir, mantan Perdana Menteri Indonesia.
***
Ibnu Katsir, sebagaimana ditulis oleh Dr. Muhammad bin Abdurrhaman Al-Urafi dalam “Awwalu Lailatin fil-Qabri”
menarasikan sebuah kisah heroik yang mencengankan pada peristiwa
perang, Islam di bawah kekhalifahan Umar bin Al-Khattab versus Nasrani
di bawah kekuasaan Romawi. Dalam barisan kaum muslimin, seorang prajurit
muda belia bernama Abdullah bin Khudzafah. Perang pun berkecamuk,
dahsyatnya perang itu menyisakan decak kagum panglima Romawi atas
keteguhan kaum muslimin dan keberanian mereka menghadapi maut.
Raja Romawi lantas memerintahkan agar
pasukan muslimin yang mereka tawan dihadapkan padanya. Mereka pun datang
termasuk Abdullah bin Khudzafah yang diseret dengan tangan terantai dan
kaki terbelenggu. Setelah diintrogasi, raja sangat kagum atas
kecerdasannya. Ia lalu berkata kepada Abdullah, Masuklah ke agama
Nasrani, kau akan kubebaskan. Abdullah menolak. Raja tetap menawarinya,
Masuklan ke agama Nasrani, kau akan kuberi separo kekuasaanku.
Abdullah tetap menolak, sang raja
meningkatkan penawaran, Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi
separo kekuasaanku dan kuikutsertakan kau dalam pemerintahanku. Abdullah
menjawab, Wallahi, andai saja kau berikan seluruh kekuasaanmu dan
kekuasaan nenek moyangmu kepadaku, bahkan seluruh kekuasaan Arab dan
selainnya, aku tetap tak sudi untuk keluar dari Islam. Raja muntab,
Kalau begitu kau akan kubunuh! “Bunuhlah,” tantang Abdullah.
Raja memerintahkan pasukannya agar
menyalib Abdullah bin Khudzafah, lalu menyuruh pasukan pemanah untuk
melepaskan anak panah ke arah Abdullah. Tetapi raja berpesan, jangan
sampai anak panah itu mengenai tubuh Abdullah–hanya untuk menakuti–saat
anak panah itu meluncur sekitar tubuhnya, raja tetap menawarinya masuk
Islam. Dan, seperti sebelumnya, Abdullah secara tegas menolak dan lebih
memilih kematian.
Melihat ketegaran Abdullah, raja
memerintahkan agar dia dikembalikan ke penjara. Kali ini, ia tidak
diberi makan dan minum, sampai ketika Abdullah hampir mati karena haus
dan lapar, mereka menyuguhinya arak dan daging babi. Melihat hidangan
haram itu, Abdullah berkata, Wallahi, aku tahu arak dan daging babi ini
sebenarnya halal bagiku, tetapi aku tidak ingin orang-orang kafir itu
bersorak gembira karenanya. Hidangan itu tidak disentuhnya, dan
peristiwa itu dilaporkan pada raja.
Dihadirkanlah seorang wanita penggoda di
hadapan Abdullah atas ide sang raja. Masuklah wanita itu ke ruang
selnya. Ia beraksi di muka sang jawara, meliuk-liukkan tubuhnya untuk
menggoda. Namun sedikit pun Abdullah tidak menoleh kepadanya. Mengetahui
sikap Abdullah seperti itu, wanita tersebut keluar sel sambil
menggerutu kepada raja dan pasukannya, Kalian telah menyuruhku menggoda
seorang lelaki, yang aku tak tahu apakah ia seorang manusia atau
seonggok batu. Demi Allah, dia tidak tahu apakah aku seorang perempuan
atau lelaki.
Akhirnya raja putus asa membujuk Abdullah.
Maka ia pun menyuruh pasukannya membuat tungku api dan memanaskan
minyak hingga mendidih. Lalu, Abdullah diberdirikan menghadap minyak
yang menggelegak. Setelah itu, didatangkanlan seorang muslim yang juga
menjadi tawaran.
Dalam kondisi badan terikat, ia diceburkan
ke minyak mendidih hingga jasadnya lenyap ditelah gelegak minyak panas,
tulang belulangnya berserakan menyembul ke atas permukaan. Abdullah
menyaksikan pemandangan terburuk itu. Di saat demikian, sang raja Romawi
kembali mengulang penawarannya, agar Abdullah murtad. Namun, ia tetap
tegar dan menolak ajakan raja.
Raja kembali naik pitam, segera
memerintahkan supaya Abdullah diceburkan ke tungku agar merasakan
panasnya api, air matanya meleleh. Abdullah menangis, raja yang
mengetahui hal itu bergembira, karena mengira bahwa lawannya sudah takut
dan segera mengalah.
Masuklah ke agama Nasrani, kau akan
kubebaskan, tawar Raja. Tidak, jawab Abdullah. Lalu mengapa kamu
menangis, tanya raja. Aku menangis karena hanya memiliki satu nyawa,
sehingga aku langsung mati ketika diceburkan ke tungku ini. Wallahi, aku
ingin memiliki seratus nyawa, yang semuanya kugunakan untuk mati di
jalan Allah, seperti kematian yang akan aku hadapi ini.
Raja berkata, “Ciumlah kepalaku, kau akan kubebaskan!” Abdullah menimpali, “Dan kau harus bebaskan pula seluruh kaum muslimin yang kau tawan.” Ya, jawab raja. Abdullah mencium kepala Raja Romawi, dan seluruh tawanan kaum muslimin pun dibebaskan.
Raja berkata, “Ciumlah kepalaku, kau akan kubebaskan!” Abdullah menimpali, “Dan kau harus bebaskan pula seluruh kaum muslimin yang kau tawan.” Ya, jawab raja. Abdullah mencium kepala Raja Romawi, dan seluruh tawanan kaum muslimin pun dibebaskan.
Begitulah perjuangan para pendahulu umat
ini, keimanannya tidak bisa ditukar dengan apa pun. Kehidupan mereka
hanya untuk meninggilan kalimat tauhid (Li i’la’i kalimatillah) dan demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin (Li izzatil islam wal muslimin).
Maka amat disayangkan jika agama tergadai hanya karena godaan dunia
yang terdiri dari harta, tahta, dan wanita. Wallahu A’lam!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar