SIANG itu Dian dipanggil oleh atasan tempatnya bekerja. “Wow
ada apa ya,” gumam Dian dalam hatinya. Setelah mengetuk pintu dan
bersalaman dengan atasannya, Dian yang memang dikenal berintegritas itu
dipercaya oleh atasannya sebagai karyawan perusahaan yang berhak untuk
mengikuti pelatihan kerja selama satu semester di luar negeri.
Dian sangat bergembira. Segala keperluan
untuk keberangkatan pun segera ia urus. Sanak famili pun sudah dikabari
semua. Tetapi, perjalanan waktu memberikannya ‘kejutan’ yang sangat
memukul hatinya. Pemilik perusahaan secara sepihak menganulir keputusan
akan keberangkatan Dian. Dengan berbagai dalih, intinya jangan Dian yang
berangkat pelatihan dari perusahaannya.
Sahabat, mungkin ada di antara kita yang
mengalami nasib yang sama dengan Dian. Ditunjuk untuk ini dan itu,
tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan. Padahal, hati kita sudah
mempersiapkan diri dan banyak hal sudah dilakukan. Namun, inilah
kehidupan. Allah Maha Mengatur.
Sedih, Malu & Kecewa
Kita tentu bisa menebak, apa yang
berkecamuk dalam hati Dian. Sedih, malu dan kecewa bercampur aduk.
Membuat hari-hari terasa seperti mendung kelabu. Dan, ini adalah hal
yang wajar. Karena memang manusia juga Allah ciptakan dengan kelemahan.
Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman;
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَؤُوساً
“Apabila Kami berikan kesenangan
kepada manusia, niscaya berpalinglah ia dan membelakang dengan sikap
sombong; dan apabila ia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa.” (QS: Al-Isra [17]: 83).
Dalam menjelaskan makna ayat tersebut, Sayyid Qutb dalam karyanya Fii Zhilalil Qur’an
berpendapat bahwa, kenikmatan, tabiatnya memang menyesatkan dan
menyombongkan selama manusianya tidak mengingat Allah Ta’ala, sehingga
memuji dan bersyukur.
Sedangkan, kesengsaraan itu tabiatnya
membuat manusia putus asa dan pesimis selama manusia tidak berhubungan
kepada Allah. Tetapi, kalau berhbungan dengan Allah, mereka tetap bisa
berharap dan bercita-cita, tenang dengan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga ia dapat bersikap optimis dan bergembira.
Tidak larut dalam masalah yang menimpa,
kemudian kehilangan semangat dan berpikir buruk yang pada akhirnya
justru akan merugikan diri sendiri. Dengan demikian, teranglah bagi kita
semua bahwa salah satu langkah untuk tetap optimis adalah mengingat
Allah. Namun bagaimana perwujudan dari mengingat Allah yang harus kita
upayakan?
Pertama, husnudzon billah. Husnudzon billah
adalah manivestasi dari mengingat Allah secara konkret. Hal ini
didasarkan pada apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alayhi
Wasallam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata, bersabda Rasulullah:
Allah berfirman: “Aku tergantung pada
prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia
mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan
jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan
mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika
ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku
sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan
mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan
berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari.” (HR. Bukhari-Muslim).
Jadi, peristiwa apapun yang menimpa kita,
terlebih hal-hal yang membuat kita malu, sedih dan kecewa. Kembalikan
saja semua kepada Allah Ta’ala dengan tetap berprasangka baik kepada-Nya
(husnudzon billah). Insya Allah hati akan tetap tenang dan jiwa akan terus optimis mengisi kehidupan fana ini.
Kalau merasa sulit untuk bisa menerima
keadaan dengan tetap husnudzon billah, cobalah pikirkan makna bahwa
Allah Maha Adil, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, Allah Maha
Mengetahui.
Pertanyaannya, adakah Allah tidak tahu
masalah buruk yang menimpa kita? Jelas Allah mengetahui. Karena itu,
alasan apa yang membuat kita tidak mau husnudzon billah!
Logikanya sederhana, bagaimana mungkin
kamu mengharap kebaikan, sementara cara berpikirmu bahkan prasangkamu
sendiri tak pernah positif? Nah….kan!
Kedua, continous improvement. Istilah continous improvement
(perbaikan diri terus menerus) sebenarnya populer dalam dunia bisnis.
Tetapi tidak salah jika spiritnya kita terapkan dalam kehidupan kita
sehari-hari.
Langkah ini bisa kita lihat pada apa yang
dilakukan Nabi Yusuf Alayhissalam. Ketika beliau dikucilkan, difitnah
bahkan dipenjara tanpa alasan yang jelas, beliau tidak sibuk menuntut
ini dan itu kepada siapapun. Tetapi beliau fokus membina ‘hubungan baik’
dengan Allah Ta’ala.
Beliau fokus mengasah ilmu yang dimiliki
dari apa yang telah Allah ajarkan. Setiap hari itu terus diasah dengan
terus berdoa dan berusaha agar Allah memberikan jalan keluar dari
masalah ketidakadilan yang menerpa hidupnya.
Umumnya orang, begitu merasa dirinya
disalahkan, dikucilkan dan lainsebagainya, langsung teriak-teriak
membela diri dengan beragam argumen. Bahkan kadang kala, karena terlalu
over, sampai perkataan tak patut pun dilontarkan. Padahal, ketika
seseorang merespon kejelekan dengan cara yang tidak patut, keduanya
menjadi sama tidak baiknya.
Jadi, daripada fokus dengan masalah buruk
yang menimpa, atau pun ucapan orang yang merendahkan kita. Lebih baik
kita gunakan waktu dan energi kita untuk melakukan hal-hal yang memang
perlu untuk kita lakukan dan kembangkan. Bukankah kita sama-sama
mengetahui bahwa pahitnya jamu itu menyehatkan hehe.
So, mari kita isi hidup ini
dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kita hadapi apapun
yang terjadi dan akan terjadi dengan senjata selalu husnudzon billah dengan tekad terus memperbaiki diri. insya Allah kebahagiaan akan menjadi kenyataan. Aamiin. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar