Malas hadir karena belum adanya kesungguhan hati untuk berkomitmen
mendisiplinkan diri, baik dalam hal waktu, tugas, maupun ibadah
AZAN shubuh sudah
berkumandang, tetapi Herman masih enggan bangun. Sekejap terdengar
olehnya suara rintik hujan. Dan, seketika itu ia langsung menarik
selimutnya lagi dan tidur lagi. Begitulah Herman setiap paginya.
Lain halnya dengan Hendra. Meski ia tidak
pernah terlambat sholat Shubuh, ia selalu terlambat berangkat ke
sekolah. Bukan karena apa-apa. Ia agak enggan melepas gad-get-nya setiap
usai sholat Shubuh. Begitulah Hendra setiap paginya.
Sementara itu Humam, ia suka sekali mengerjakan apapun menjelang deadline
(batas akhir). Ia memang sering mengatakan bahwa dirinya tak pernah
mampu mengatur waktu, sehingga selalu saja mengerjakan apapun yang
penting setelah benar-benar dekat deadline.
Sahabat, ketiga anak muda tadi mengidap
satu penyakit yang sama, meski beda bentuknya, yakni malas. Umumnya,
penyakit mental ini banyak menerpa kalangan muda, terutama kala mereka
harus melakukan apa yang sudah mereka pahami sebagai suatu hal yang
mesti disegerakan. Tetapi, bukan berarti semua yang sudah tak muda lagi
telah terbebas dari sifat malas ini.
Malas bisa menyerang siapa saja dan kapan
serta dimana saja. Oleh karena itu, ayuk kita kenali bersama-sama apa
malas itu dan mengapa malas itu hadir serta bagaimana cara mengusirnya.
Dalam satu bahasan psikologi malas itu
diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang
seharusnya atau sebaiknya dia lakukan.
Wujudnya bisa bermacam-macam. Diantaranya
adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, suka menunda sesuatu,
mengalihkan diri dari kewajiban, dan selalu mencari alasan-alasan
pembenaran. Tentu saja, sikap seperti itu merupakan perilaku negatif
yang sangat merugikan, baik masa kini lebih-lebih masa depan.
Pertanyannya, mengapa malas itu hadir? Ada
banyak sebab. Meski pada prinsipnya malas juga bagian dari sifat bawaan
manusia. Tetapi, dalam hal ini kita tetap perlu mengetahui, mengapa
malas itu hadir.
Pertama, malas hadir karena hati kita
lebih tertarik pada hal-hal yang mengasyikkan atau melenakan. Seperti
tidur saat Shubuh, itu kan enak dalam pengertian malas. Kemudian main
gad-get, itu kan asyik dan melenakan, sehingga tanpa terasa seseorang
tanpa sadar dan penyesalan kehilangan waktu.
Kedua, malas hadir karena belum adanya
kesungguhan hati untuk berkomitmen mendisiplinkan diri, baik dalam hal
waktu, tugas, maupun ibadah. Kalau seseorang tidak benar-benar
mengikrarkan diri dan berusaha mati-matian untuk disiplin alias tidak
malas, sampai kapanpun malas akan mudah menyerang.
Ketiga, faktor pergaulan. Bagaimana kita
mau disiplin belajar, ibadah dan mengerjakan tugas sekolah, kalau kita
bergaulnya sama orang-orang yang malas, suka hura-hura dan sebagainya.
Mengusir Malas
Kalau begitu bagaimana cara mengusir
malas? Secara teori baik dalam tinjauan psikologis dan motivasi banyak
cara. Tetapi, coba deh resep yang disampaikan oleh Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alayhi Wasallam.
Pertama, memahami konsep waktu. “Jika
kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari dan jika kamu berada
di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah waktu sehatmu untuk
(persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu.” (HR. Imam Bukhari).
Pahami benar pentingnya waktu. Kalau ada
hal paling misteri di muka bumi ini, itulah waktu. Mengapa kita tidak
boleh menunda apalagi malas, karena waktu tak ada yang bisa jamin. Dan,
boleh jadi saat kita menunda suatu pekerjaan pada suatu waktu, eh
ternyata kala waktu itu tiba, datang kesibukan lainnya. Akhirnya apa? Ya
ujung-ujungnya, semua gak ada yang terlaksana. Jatuh deh kredibilitas
diri kita.
Oleh karena itu, kita harus benar-benar
memahami konsep waktu ini dengan baik. Sebab waktu tak akan pernah bisa
kembali. Itulah mengapa Imam Ghazali mengatakan yang terjauh dari hidup
kita itu adalah waktu.
Kedua, milikilah
mental bersegera dalam kebaikan dan ampunan-Nya. Setelah memahami
pentingnya waktu, ikutilah perintah Allah Ta’ala untuk kita bersegera
dalam kebaikan dan ampunan Allah Ta’ala. Ya, kalau dengar adzan,
berjuanglah untuk bisa sholat tepat waktu, syukur berjama’ah ke masjid.
Ketiga,
berdoalah kepada Allah Ta’ala. Trik dan tips apapun tidak akan
benar-benar menyelamatkan diri kita dari malas jika tanpa pertolongan
Allah kepada kita.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam mengajarkan kita sebuah doa agar dilindungi dari sifat malas.
“Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya
aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku
berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung
kepada-Mu daripada sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu
daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia.” (HR Abu Dawud). Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar